Rabu, 10 Agustus 2011

laporan dialog interaktif

Laporan Dialog Interaktif
Nama acara               : Kick Andy
Yang menayangkan : Metro TV
Pembawa acara         : Andy F. Noya
Narasumber               :
-         Karina de Vega (pemilik Panti Asuhan Eklesia)
-         Fredollin Djoebere (finalis Idola Cilik II, penghuni Panti Asuhan Eklesia)
-         Martin (penghuni Panti Asuhan Eklesia)
-         Maria Fransiska Bira (penghuni Panti Asuhan Eklesia)
-         M. Agus Gofurur Rochim (pemimpin Pondok Pesantren Madinnatunajah)
-         Ardian Malawat (murid di Madinnatunajah)
-         Yusuf (murid di Madinnatunajah)
-         Agustina / Stien (pendiri Panti Asuhan Pniel)
-         Emma Rachel (penghuni Panti Asuhan Pniel)
-         Jelvan (penghuni Panti Asuhan Pniel)
-         Arba (pengelola Panti Asuhan Al-Habibah)
-         Ichsan Malik (aktivis perdamaian)
-         Fitri Fausiah (psikolog lulusan UI)
Waktu penayangan  :Jumat,  24 Juli 2009  Pukul 21.30 – 23.00
Topik                          : Anak – anak Korban Konflik di Ambon


Isi dialog :

Fredollin Djoebere, atau biasanya dipanggil Olin, menceritakan pengalaman hidupnya saat terjadi konflik besar di Ambon. Saat itu Olin masih kecil ketika konflik terjadi. Ia terpaksa kabur ke hutan dan tinggal di sana selama 2 bulan, tetapi akhirnya dipindahkan ke barak pengungsian. Perjuangan Olin tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mengaku sering bernyanyi saat hujan deras di malam hari untuk mengabaikan rasa lapar. Ia berbuat seperti itu karena bila ia bernyanyi lantang untuk mengalahkan suara hujan, ia akan kelelahan dan tertidur, sehingga rasa lapar terlupakan. Akhirnya Olin dan teman – temannya ditemukan oleh Ibu Karina de Vega, yang memang membangun panti asuhan untuk melindungi dan merawat anak-anak korban konflik di Ambon. Olin telah berjanji untuk tidak pernah menyerah dalam menggapai mimpinya dan ia pun meraih kesuksesan. Dengan usaha dan kemauan yang kuat, Olin telah berhasil mendapatkan peringkat 10 di acara Idola Cilik II, mengalahkan lebih dari 12.000 anak lainnya.

Selain Olin, Martin, yang juga merupakan anak asuh Ibu Karina, memiliki kenangan yang sangat buruk dalam peristiwa konflik di Ambon. Ia menyaksikan ibunya ditembak di depan matanya sendiri. Awalnya ia sempat merasakan dendam yang sangat mendalam, tetapi dengan bimbingan Ibu Karina ia percaya bahwa ia harus mengampuni orang lain. Martin mengatakan bahwa ia akan belajar keras agar menjadi orang sukses, lalu ia akan kembali ke Ambon untuk membangun tempat kelahirannya itu.

Ibu Karina juga ikut menceritakan pengalamannya bersama anak-anak asuhnya. Pada saat awal ia mulai merawat anak – anak korban konflik tersebut, ia menyadari banyak di antara mereka yang terluka secara fisik. Ada yang telinganya menjadi tuli dan banyak anak yang terkena serpihan bom. Ia menyatakan bahwa anak – anak yang terkena serpihan bom itu awalnya baik – baik saja, tetapi lama – kelamaan mulai mengeluh bahwa beberapa bagian tubuh mereka sakit. Untungnya ia segera membawa mereka ke dokter dan mereka semua bisa disembuhkan. Sampai sekarang ia masih merawat dan mendidik mereka agar kelak mereka dapat menjadi orang yang baik. Ia berpesan bahwa untuk berbuat baik kita tidak perlu menjadi orang kaya, yang penting kita tulus dan ihklas dalam membantu orang lain.

Menurut Bapak Ichsan Malik yang merupakan seorang aktivis perdamaian, pemicu konflik di Ambon saat itu adalah Indonesia yang sedang mengalami krisis ekonomi. Keadaan ekonomi sedang tidak stabil dan akhirnya muncul ricuh di mana – mana. Ia mengatakan bahwa untuk mencegah hal semacam itu terulang lagi, masyarakat harus belajar untuk menghargai perbedaan dan meningkatkan integrasi bersama.


Lalu ada juga cerita lain dari Ibu Agustina (biasanya dipanggil Ibu Stien). Pertama kali ia mendirikan Panti Asuhan Pniel dengan tujuan menampung anak – anak korban konflik di Ambon. Namun begitu panti asuhan mulai berjalan, ia sempat merasa putus asa dan hampir menyerah karena anak – anak itu begitu sulit untuk diatur dan tidak berdisiplin. Padahal ia sudah berpengalaman dalam bidang tersebut karena ia juga memiliki panti jompo. Tetapi akhirnya seiring dengan berjalannya waktu anak – anak itu sudah bersikap lebih baik. Mereka mengisi waktu luang mereka dengan bernyanyi dan bermain musik, dan kelompok paduan suara mereka pernah tampil dalam kampanye Megawati-Prabowo belum lama ini. Semua anak yang pernah menjadi korban konflik yang hadir di situ mendambakan perdamaian agar tak ada lagi yang memiliki pengalaman pahit seperti mereka.
Penilaian                    :

a)     Acara                          : Acara Kick Andy selalu memberikan inspirasi bagi orang – orang yang menontonnya. Topiknya juga tidak membosankan dan disajikan dengan data yang jelas, lengkap dengan para narasumber dan pakar di bidang yang sedang dibahas. Saya mendapat banyak pengetahuan dari menonton acara ini, contohnya tentang kasus kematian David, seorang murid di sekolah NTU, Singapur. Juga mengenai derita yang dialami anak – anak yang mengalami korban konflik di Indonesia dan berbagai informasi lainnya.

b)     Pembawa acara         : Menurut saya, Pak Andy itu berkarisma dan pintar bertanya pada para narasumbernya untuk mendapatkan informasi. Penontonnya menjadi mengerti akan masalah yang dibicarakan dan apa yang dialami para narasumber. Ia juga membawakan acara dengan santai seperti berbincang – bincang dengan teman, sehingga para narasumbernya tidak terlalu tegang dan gugup.

c)     Narasumber               : Semua anak yang diundang dalam acara Kick Andy kali ini memiliki cita – cita dan mimpi yang mulia; mereka ingin membangun kembali Ambon dan mereka menginginkan perdamaian. Mereka tak mau melihat orang lain menderita seperti mereka karena mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Mereka telah membuktikan bahwa mereka pun mampu meraih prestasi gemilang dan menjadi pribadi yang utuh walau kehidupan tak selalu adil pada mereka.

d)     Isi                                : Secara keseluruhan, acara ini sangat baik untuk disaksikan menurut saya. Kick Andy ditampilkan dengan menarik dan dapat ‘membuka’ mata kita akan apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita. Acaranya juga tidak hanya wawancara terus, kadang diselingi lagu – lagu (seperti penampilan paduan suara dalam acara kali ini) sehingga penontonnya tidak bosan.
Nilai hidup                :
  1. Konflik dan perang hanya akan membawa penderitaan.
  2. Jangan pernah menyerah walau pun keadaan dan lingkungan sangat tidak mendukung, sebab bila kita terus berusaha, kita bisa meraih kesuksesan kelak.

lagu keren bbuat diskon ...

lagu keren bbuat diskon ...

surat kecil untuk tuhanTuhan…

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
terjadi pada orang lain.

Tuhan…
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-Mu

Tuhan…
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu

Tuhan…
Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya..

Tuhan…
Izinkanlah rambutku kembali tumbuh, agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya.

Tuhan…
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bisa memberikan kebahagiaan
kepada ayah dan sahabat-sahabatku

Tuhan…
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidup
kepada siapapun yang mengenalku..

Tuhan ..
Surat kecil-ku ini
adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali…
Ke dunia yang Kau berikan padaku..

3 Tragedi Yang Pernah Menggegerkan Indonesia Tahun 80-an

1. Petrus (penembakan misterius)


Tapi dua butir peluru segera bersarang di tubuhnya. Satu di dada dan satu di kepala. Tubuhnya lalu tumbang dan dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Esok hari, bisik-bisik beredar di masyarakat. Dia adalah Robert preman yang selama ini ditakuti, sampah masyarakat, bromocorah!

Mungkin nasib Bathi Mulyono masih lebih baik. Begitu mendengar dirinya ikut menjadi target, dia segera melarikan diri hingga ke sejumlah negara luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Meninggalkan istri dan anaknya yang baru lahir. Namun, Bathi dan anaknya yang kini berusia 25 tahun, Lita, telah bertemu kembali.

Tahun 1980-an. Ketika itu, ratusan residivis, khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah, mati ditembak. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus", penembak misterius. Tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak. Para korban Petrus sendiri saat ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan kebun. Pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat keamanan.

Kala itu, para pria bertato disergap ketakutan karena muncul desas-desus, petrus mengincar lelaki bertato. Peristiwa penculikan dan penembakan terhadap mereka yang diduga sebagai gali, preman, atau residivis itu, belakangan, diakui Presiden Soeharto, sebagai inisiatif dan atas perintahnya. "Ini sebagai shock therapy," kata Soeharto dalam biografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.

Mayat-mayat itu ketika masih hidup dianggap sebagai penjahat, preman, bromocorah, para gali, dan kaum kecu yang dalam sejarah memang selalu dipinggirkan, walau secara taktis juga sering dimanfaatkan. Pada saat penembak misterius merajalela, para cendekiawan, politisi, dan pakar hukum angkat bicara. Intinya, mereka menuding bahwa hukuman tanpa pengadilan adalah kesalahan serius. Meski begitu, menurut Soeharto, “Dia tidak mengerti masalah yang sebenarnya.” Mungkin tidak terlalu keliru untuk menafsir bahwa yang dimaksud Soeharto sebagai orang yang mengerti masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri.

Sayang, petrus hanya berlaku untuk preman kelas teri, mereka yang merampok karena lapar. Sayang, petrus tidak berlaku untuk preman berdasi, mereka yang mencuri karena mereka rakus...

2. Sengkon dan Karta, Sebuah Ironi Keadilan


Lima tahun bukan waktu yang teramat pendek. Apalagi untuk dihabiskan di dalam sebuah ruangan beku bernama penjara. Apalagi untuk sebuah perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Tapi Sengkon dan Karta mengalaminya. Kepada siapakah mereka harus mengadu, jika sebuah lembaga bernama pemerintah tidak bisa lagi dipercaya? Sebab keadilan tidak pernah berpihak kepada Sengkon, juga Karta, juga mereka yang lain, yang bernama rakyat kecil.

Alkisah sebuah perampokan dan pembunuhan menimpa pasangan suami istri Sulaiman-Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi. Tahun 1974. Beberapa saat kemudian polisi menciduk Sengkon dan Karta, dan menetapkan keduanya sebagai tersangka.

Keduanya dituduh merampok dan membunuh pasangan Sulaiman-Siti Haya. Tak merasa bersalah, Sengkon dan Karta semula menolak menandatangani berita acara pemeriksaan. Tapi lantaran tak tahan menerima siksaan polisi, keduanya lalu menyerah. Hakim Djurnetty Soetrisno lebih mempercayai cerita polisi ketimbang bantahan kedua terdakwa. Maka pada Oktober 1977, Sengkon divonis 12 tahun penjara, dan Karta 7 tahun. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

Dalam dinginnya tembok penjara itulah mereka bertemu seorang penghuni penjara bernama Genul, keponakan Sengkon, yang lebih dulu dibui lantaran kasus pencurian. Di sinilah Genul membuka rahasia: dialah sebenarnya pembunuh Sulaiman dan Siti!. Akhirnya, pada Oktober 1980, Gunel dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.

Meski begitu, hal tersebut tak lantas membuat mereka bisa bebas. Sebab sebelumnya mereka tak mengajukan banding, sehingga vonis dinyatakan telah berkekuatan hukum tetap. Untung ada Albert Hasibuan, pengacara dan anggota dewan yang gigih memperjuangkan nasib mereka. Akhirnya, pada Januari 1981, Ketua Mahkamah Agung (MA) Oemar Seno Adji memerintahkan agar keduanya dibebaskan lewat jalur peninjauan kembali.

Berada di luar penjara tidak membuat nasib mereka membaik. Karta harus menemui kenyataan pahit: keluarganya kocar-kacir entah ke mana. Dan rumah dan tanah mereka yang seluas 6.000 meter persegi di Desa Cakung Payangan, Bekasi, telah amblas untuk membiayai perkara mereka.

Sementara Sengkon harus dirawat di rumah sakit karena tuberkulosisnya makin parah, sedangkan tanahnya yang selama ini ia andalkan untuk menghidupi keluarga juga sudah ludes dijual. Tanah itu dijual istrinya untuk menghidupi anak-anaknya dan membiayai dirinya saat diproses di polisi dan pengadilan. Walau hanya menanggung beban seorang istri dan tiga anak, Sengkon tidak mungkin meneruskan pekerjaannya sebagai petani, karena sakit TBC terus merongrong dan terlalu banyak bekas luka di badan akibat siksaan yang dideranya.

Sementara itu Sengkon dan Karta juga mengajukan tuntutan ganti rugi Rp 100 juta kepada lembaga peradilan yang salah memvonisnya. Namun Mahkamah Agung menolak tuntutan tersebut dengan alasan Sengkon dan Karta tidak pernah mengajukan permohonan kasasi atas putusan Pengadilan Negeri Bekasi pada 1977. ‘Saya hanya tinggal berdoa agar cepat mati, karena tidak ada biaya untuk hidup lagi’ kata Sengkon.

Lalu Tuhan berkuasa atas kehendaknya. Karta tewas dalam sebuah kecelakaan, sedangkan Sengkon meninggal kemudian akibat sakit parahnya. Di sanalah mereka dapat mengadu tentang nasibnya, hanya kepada Tuhan (berbagai sumber)
.
3. Arie Hanggara

Ada yang bilang ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Tapi ibu tiri yang satu ini jauh lebih kejam. Arie Hanggara, bocah 7 tahun ini tewas dianiaya orang tuanya sendiri. Peristiwa pada akhir November 1984 itu tiba-tiba menyentakkan perhatian publik. Media massa menuliskannya panjang-lebar. Sidang pengadilannya membeludak. Orang ingin tahu seperti apa sosok kedua orang tua Ari: Machtino bin Eddiwan dan Santi binti Cece. Bahkan rekonstruksi yang harus dilakukan suami-istri itu nyaris gagal karena massa melampiaskan kemarahan kepada kedua pesakitan.

Arie tiba-tiba menjadi simbol dari anak-anak yang tertindas. Bahkan sampai-sampai tim pengacara orang tua Arie mendapat teror dari orang-orang yang tidak dikenal. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto sempat membuatkan patung Arie--meski akhirnya dibatalkan--sebagai peringatan agar kasus serupa tak terulang di masa mendatang.

Akibat himpitan beban ekonomi yang dialami oleh kedua orang tuanya, ayahnya seorang pengangguran, dengan tiga orang anak, membuatnya gelap mata. Akibatnya dia menjadi ringan tangan. Ketika suatu hari dituduh mencuri uang maka Arie Hanggara dipukul dan disiksa hingga menemui ajal di tangan orang yang seharusnya melindunginya.

Kisah bocah malang tersebut pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Frank Rorimpandey, dan dibintangi oleh Deddy Mizwar, Joice Erna.

Selasa, 09 Agustus 2011

sm*sh - senyum dan semanggat

Sempat merasa sedih
Karena sering di-bully
Pernah jadinya malu
Karena dicibir mulu

Bukannya ku tak mengelak
Kata-kata yang kasar
Bukannya ku tak peduli
Semua caci dan maki

Senyuman ku tak akan
Pernah luntur lagi
Singing all day long
Semangat ku tak akan
Pernah patah lagi
Dancing all night long
Dancing all night long

Tak ada lagi keki
Ada kamu di hati
Hidup cuma sekali
Marilah kita happy

Awalnya ku tak menganggap
Kata tersenyum darimu
Akhirnya ku bahagia
Menari kita bersama

Senyuman ku tak akan
Pernah luntur lagi
Singing all day long
(Singing all day long)
Semangat ku tak akan
Pernah patah lagi

Dancing all night long
Dancing all night long
Dancing all night long
Dancing all night long
Dancing all night long

Tak peduli ku di-bully
Omongan lu gue beli
Cacian lu gue cuci
Dengan senyuman prestasi

Tak pernah ku malu
Karena cibiranmu
Ku jadikan motivasi untuk maju
No more mellow say no to galau
No more to say no to hear

Let’s dance together all night long
Let’s dance together all night long
Let’s dance together all night long
Let’s dance together all night long

Senyuman ku tak akan
Pernah luntur lagi
Singing all day long
(Singing all day long)
Semangat ku tak akan
Pernah patah lagi
Dancing all night long

Senyuman ku tak akan
Pernah luntur lagi
Singing all day long
Semangat ku tak akan
Pernah patah lagi
Cause you blast me up

vierra - terlalu lama

sudah lama ku menanti dirimu
tahu tahu sampai kapankah
sudah lama kita bersama-sama
tapi segini sajakah

entah sampai kapan ooo
entah sampai kapan

reff:
hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama

sadarkah kau, ku adalah wanita
aku tak mungkin memulai
sadarkah kau, kau menggantung diriku
aku tak mau menunggu

repeat *
repeat reff

(hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta)
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama

repeat reff

my reiquers ..

yaalah kenapa sih aku suka sama dy. apa see cakepnya dy? apa mungkin ini karma. yaallah tolong hapus perasan ini amieen ..